Penuh Kidmah, Santri MI Qudsiyyah Mengikuti Khataman Kitab Nahwu Al-Jurumiyah
- Selasa, 02 Juni 2026
- Berita Sekilas Info
- Faruqi ahmad
- 1 komentar
Kudus – Suasana khusyuk dan penuh keberkahan menyelimuti Aula Pesantren Al-Mu’thi dan Pesantren Bendan pada Selasa (02/06/2026). Kegiatan yang berlangsung dengan penuh ketertiban dan kekhidmatan tersebut dihadiri oleh ratusan santri yang datang dari berbagai tingkatan untuk mengikuti khataman kitab Al-Jurumiyyah. Sejak awal acara dimulai, para santri tampak duduk dengan tertib dan penuh takdzim, menunjukkan penghormatan mereka terhadap ilmu serta para guru yang membimbing proses pembelajaran.
Khataman kitab Al-Jurumiyyah menjadi momentum penting bagi para santri dalam menuntaskan kajian salah satu kitab dasar yang sangat populer di lingkungan pesantren. Kitab karya Syaikh Shonhaji tersebut membahas kaidah-kaidah ilmu gramatika bahasa Arab (nahwu) yang menjadi fondasi utama dalam memahami berbagai literatur keislaman berbahasa Arab. Melalui penguasaan ilmu nahwu, para santri diharapkan mampu membaca, memahami, dan mengkaji kitab-kitab klasik secara lebih mendalam dan sistematis.
Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, para santri mengikuti rangkaian kegiatan khataman dengan penuh perhatian. Pembacaan dan penyelesaian materi kitab dilakukan secara bersama-sama sebagai bentuk rasa syukur atas selesainya proses pembelajaran yang telah ditempuh. Kegiatan ini tidak hanya menjadi penanda berakhirnya kajian kitab Al-Jurumiyyah, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat semangat para santri dalam terus menuntut ilmu dan mendalami khazanah keilmuan Islam yang diwariskan oleh para ulama terdahulu.
Suasana religius yang tercipta selama kegiatan berlangsung semakin menambah kekhidmatan acara. Para santri mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan penuh kesungguhan, menjadikan momen khataman kitab Al-Jurumiyyah sebagai pengalaman berharga dalam perjalanan menuntut ilmu di lingkungan pesantren.

Kegiatan yang merupakan tradisi tahunan ini menandai keberhasilan para santri dalam mengkhatamkan, menghafalkan, serta memahami dasar-dasar ilmu alat yang menjadi kunci utama dalam membaca dan memahami kitab kuning (turats). Kitab Al-Jurumiyyah sendiri dikenal sebagai salah satu kitab dasar dalam ilmu nahwu yang telah lama diajarkan di berbagai pesantren. Melalui pembelajaran kitab ini, para santri dibekali kemampuan untuk mengenali struktur bahasa Arab, memahami kedudukan kata dalam kalimat, serta menguasai kaidah-kaidah kebahasaan yang menjadi fondasi dalam mengkaji literatur keislaman klasik. Keberhasilan menyelesaikan kitab ini menjadi langkah awal yang penting bagi para santri sebelum melanjutkan pembelajaran ke kitab-kitab yang lebih tinggi tingkatannya.
Lebih dari sekadar seremoni penutupan pembelajaran, khataman kitab Al-Jurumiyyah juga menjadi wujud apresiasi atas ketekunan, kedisiplinan, dan kesungguhan para santri dalam menuntut ilmu. Proses belajar yang dijalani tidak hanya menuntut kemampuan menghafal materi, tetapi juga pemahaman yang mendalam terhadap kaidah-kaidah yang dipelajari. Oleh karena itu, kegiatan khataman ini menjadi momentum yang membanggakan bagi para santri, para asatiz, serta seluruh keluarga besar pesantren. Diharapkan, bekal ilmu yang telah diperoleh dapat menjadi dasar yang kuat untuk mendalami berbagai cabang ilmu keislaman lainnya serta menumbuhkan semangat belajar yang berkelanjutan dalam mengkaji khazanah keilmuan Islam yang kaya dan luas.

Menjaga Tradisi Salaf di Era Modern
Acara diawali dengan pembacaan doa belajar yang meliputi doa pembuka majelis, Sholawat Asnawiyyah, dan Sholawat Qudsiyyah. Lantunan doa dan sholawat yang dibaca secara bersama-sama oleh para santri menciptakan suasana yang khidmat serta menambah kekhusyukan jalannya kegiatan. Dengan penuh penghayatan, para peserta mengikuti setiap rangkaian acara sebagai bentuk tawassul dan harapan agar ilmu yang dipelajari senantiasa membawa keberkahan serta kemanfaatan.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Al-Barjanzi yang berlangsung syahdu dan penuh kekhidmatan. Irama pembacaan yang merdu serta penghayatan terhadap kisah-kisah kehidupan Rasulullah SAW menghadirkan suasana religius yang mendalam di tengah para hadirin. Momen ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian acara seremonial, tetapi juga sebagai sarana menumbuhkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual dalam kehidupan para santri.
Puncak acara ditandai dengan pembacaan bagian akhir kitab nahwu Al-Jurumiyyah yang dipimpin oleh Kyai Ibadurrahman dan Ust. Muhabbab, B.Sc. Dengan penuh ketelitian dan kehati-hatian, keduanya membacakan serta menjelaskan bagian penutup kitab sebagai simbol selesainya proses pembelajaran yang telah ditempuh oleh para santri. Momen khataman tersebut disambut dengan rasa syukur dan kebahagiaan oleh seluruh peserta yang hadir, karena menjadi penanda keberhasilan para santri dalam menyelesaikan salah satu kitab dasar ilmu alat yang sangat penting dalam tradisi keilmuan pesantren.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa tradisi pendidikan salaf tetap terjaga dan relevan di tengah perkembangan zaman yang semakin modern. Melalui pembelajaran kitab-kitab klasik, para santri tidak hanya dibekali kemampuan akademik dalam memahami literatur keislaman, tetapi juga ditanamkan nilai-nilai adab, ketekunan, serta kecintaan terhadap warisan intelektual para ulama. Dengan demikian, pesantren terus memainkan peran strategis dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam sekaligus menyiapkan generasi yang mampu menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Sekilas tentang Kitab Al-Jurumiyyah di MI Qudsiyyah
Kitab Al-Jurumiyyah merupakan salah satu kitab dasar ilmu nahwu yang menjadi bagian penting dalam kurikulum pembelajaran keagamaan di MI Qudsiyyah. Kitab karya Imam Ibnu Ajurrum ini telah lama digunakan sebagai rujukan awal untuk mengenalkan kaidah-kaidah tata bahasa Arab kepada para santri dan peserta didik. Penguasaan kitab Al-Jurumiyyah dipandang sebagai fondasi utama sebelum mempelajari kitab-kitab nahwu tingkat lanjut maupun berbagai literatur Islam klasik yang berbahasa Arab.
Dalam praktik pembelajarannya, Al-Jurumiyyah diajarkan dengan metode khas pesantren yang menekankan pada hafalan matan, pemahaman skema (tarkib), serta praktik langsung dalam membaca dan menganalisis kitab kuning. Para santri tidak hanya dituntut untuk menghafalkan isi kitab, tetapi juga memahami fungsi setiap kaidah dan mampu menerapkannya dalam pembacaan teks Arab tanpa harakat. Pendekatan ini bertujuan agar pemahaman yang diperoleh tidak bersifat teoritis semata, melainkan dapat diaplikasikan secara nyata dalam kegiatan belajar sehari-hari.
Adapun tujuan utama pembelajaran Al-Jurumiyyah di MI Qudsiyyah adalah membentuk karakter santri yang kritis, teliti, dan memiliki kemampuan berpikir analitis dalam memahami teks-teks keislaman. Selain itu, pembelajaran ini diarahkan untuk membekali santri agar mampu membaca kitab gundul secara mandiri dengan tetap berpedoman pada kaidah bahasa Arab yang benar. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi santri dalam melanjutkan kajian keilmuan Islam yang lebih mendalam pada jenjang berikutnya.
Lebih jauh, pengajaran kitab Al-Jurumiyyah juga menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi dan pakem keilmuan salaf yang diwariskan oleh para kyai pendahulu. Melalui pembelajaran yang berkesinambungan, nilai-nilai keilmuan pesantren tetap terjaga dan dapat ditransmisikan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, para santri tidak hanya memperoleh pengetahuan bahasa Arab, tetapi juga mewarisi tradisi intelektual Islam yang telah berkembang dan dijaga oleh para ulama selama berabad-abad.



Acara pungkasan ini ditutup dengan doa khataman kitab yang dipimpin oleh Kyai Ibadurrahman dan Ust. Muhabbab, B.Sc. Dalam suasana yang penuh khidmat, seluruh santri dan hadirin menengadahkan tangan seraya memanjatkan doa kepada Allah SWT sebagai ungkapan rasa syukur atas terselesaikannya pembelajaran kitab Al-Jurumiyyah. Doa tersebut menjadi penutup yang sarat makna sekaligus pengingat bahwa keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak hanya diukur dari selesainya kajian, tetapi juga dari keberkahan dan kemanfaatan ilmu yang diperoleh.
Melalui doa khataman tersebut, dipanjatkan harapan agar ilmu yang telah dipelajari para santri menjadi ilmu yang berkah, bermanfaat, dan mampu diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, doa juga ditujukan sebagai bentuk penghormatan kepada penyusun kitab (mushannif), para masyayikh, guru, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam proses transmisi keilmuan Islam. Diharapkan pahala dari pembelajaran dan pengamalan ilmu tersebut terus mengalir sebagai amal jariyah yang tidak terputus, baik bagi penulis kitab maupun para guru yang telah dengan ikhlas mengajarkan dan membimbing para santri dalam menempuh jalan ilmu.