You need to enable javaScript to run this app.

Tingkatkan Minat Baca, MI Qudsiyyah Gelar Literasi Madrasah di Joglo Gusjigang

Tingkatkan Minat Baca, MI Qudsiyyah Gelar Literasi  Madrasah di Joglo Gusjigang

KUDUS—Komitmen dalam menumbuhkan budaya membaca dan meningkatkan kemampuan literasi peserta didik terus dilakukan oleh Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Qudsiyyah Kudus. Salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Literasi Madrasah yang digelar di Joglo Gusjigang Kudus, Kamis (11/6/2026). Kegiatan yang diikuti ratusan santri tersebut berlangsung meriah dengan menghadirkan berbagai aktivitas edukatif, mulai dari senam literasi, motivasi membaca, dongeng interaktif, literasi sains, hingga layanan Perpustakaan Keliling.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya madrasah dalam mendukung penguatan budaya literasi yang saat ini menjadi salah satu fokus pembangunan pendidikan nasional. Tidak hanya mengajarkan kemampuan membaca dan menulis, kegiatan ini juga mendorong peserta didik untuk mampu berpikir kritis, kreatif, komunikatif, serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan.

Sejak pagi hari, suasana Joglo Gusjigang tampak ramai dan penuh semangat. Para santri mengikuti rangkaian kegiatan dengan antusias. Acara diawali dengan Senam Literasi dan Senam Anak Indonesia Hebat yang dipandu secara interaktif. Selain bertujuan menjaga kesehatan fisik, kegiatan ini juga menjadi sarana membangun semangat belajar, meningkatkan konsentrasi, serta menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Acara yang cukup menarik dikemas dengan rangkaian kegiatan yang merangkul kecerian para santri. Kegiatan acara ini di awali dengan senam  literasi dan senam anak indonesia hebat. Gerakan senam yang energik tidak hanya menyegarkan fisik para santri.

Setelah aktivitas fisik, acara resmi dibuka dengan khidmat melalui pembacaan Sholawat Asnawiyyah dan Sholawat Qudsiyyah. Lantunan selawat khas Qudsiyyah ini menggema di area Joglo Gusjigang, membawa suasana religius yang kental sekaligus menanamkan karakter Islami dan cinta tanah air kepada seluruh santri. Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan dan nilai-nilai spiritual harus berjalan beriringan dalam membentuk generasi yang unggul.

Dalam sambutannya, Kepala Madrasah berpesan bahwa dengan membaca kita bisa mengetahui isi dunia tanpa harus kesana, selain itu beliau juga berharap bisa bersinergi dan berkelajutan acara seperti ini. Kepala MI Qudsiyyah menegaskan pentingnya membangun budaya membaca sejak usia dini sebagai bekal menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks.

"Dengan membaca, kita dapat mengetahui isi dunia tanpa harus pergi ke sana. Melalui kegiatan ini kami berharap minat baca santri semakin meningkat dan menjadi budaya yang terus tumbuh di lingkungan madrasah. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak pihak dalam membangun generasi yang cerdas dan berkarakter," tuturnya.

Suasana semakin hidup saat sesi motivasi yang disampaikan oleh Duta GenRe (Generasi berencana) Kabupaten Kudus, Jessica Catarina Denis dan Muhammad Billy Wahyu Aji.

Mereka memberikan sesi motivasi interaktif tentang literasi membaca lebih mendalan karena membaca adalah jendela dunia. Keduanya mengajak para santri untuk membiasakan membaca sebagai investasi masa depan. Dalam kesempatan tersebut, Jessica dan Billy juga menyampaikan pesan dari Bunda Literasi Kabupaten Kudus, Iin Endhah Sam'ani Intakoris, yang berhalangan hadir secara langsung.

"Bunda titip salam untuk anak-anak MI Qudsiyyah. Saat kecil, bunda juga seperti kalian, belajar, bermain, bercanda bersama teman-teman, bahkan kadang merasa malas belajar. Namun seiring bertambahnya usia, bunda menyadari bahwa ilmu adalah sesuatu yang sangat penting. Ilmu tidak bisa dicuri oleh siapa pun. Karena itu teruslah belajar, rajin membaca, jaga kesehatan, dan jangan pernah berhenti mengejar cita-cita," pesan Bunda Literasi yang disampaikan melalui Duta GenRe Kabupaten Kudus.

Pesan tersebut mendapat sambutan hangat dari para peserta. Banyak siswa tampak antusias saat diajak berdialog mengenai cita-cita, kebiasaan membaca, dan pentingnya terus belajar sepanjang hayat.

Memasuki sesi berikutnya, para santri diajak menjelajahi dunia imajinasi melalui kegiatan Read Aloud bersama komunitas Read Aloud Kudus. Dengan metode mendongeng yang ekspresif dan interaktif, para pendongeng membawakan cerita berjudul Dor. Melalui cerita tersebut, siswa tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga diajak memahami konsep-konsep sains sederhana yang dikemas dalam bentuk cerita yang menarik. Kegiatan Read Aloud ini menjadi bukti bahwa literasi dapat dilakukan melalui berbagai media. Anak-anak terlihat aktif menjawab pertanyaan, menyampaikan pendapat, serta menunjukkan rasa ingin tahu terhadap isi cerita yang disampaikan.

Literasi tidak melulu soal teks buku pelajaran. Literasi sains ceria juga unjuk gigi lewat sebuah eksperimen sederhana yang mengundang decak kagum, yaitu eksperimen meletuskan balon menggunakan kulit jeruk. Sorot mata takjub terlihat saat kandungan minyak atsiri (limonene) dari perasan kulit jeruk diteteskan dan berhasil melarutkan karet balon hingga meletus seketika. Eksperimen ini membuktikan bahwa membaca panduan sains bisa menghasilkan praktik yang sangat seru.  Kegiatan ini dirancang untuk mengenalkan metode ilmiah kepada siswa melalui praktik langsung yang menyenangkan.

Eksperimen kedua yang tidak kalah menarik adalah Balon Melayang dengan Cup Kopi Selection Balon Udara. Dalam percobaan ini, para santri diajak melihat bagaimana balon yang dipasang pada rangkaian sederhana dapat bergerak dan melayang sepanjang lintasan yang telah disiapkan. Dengan memanfaatkan tekanan udara yang keluar dari balon, balon mampu meluncur layaknya balon udara mini.

Melalui eksperimen ini, para siswa dikenalkan pada konsep gaya dorong dan tekanan udara. Anak-anak belajar bahwa udara yang tidak terlihat ternyata memiliki energi yang dapat menggerakkan benda. Selain menumbuhkan rasa kagum, percobaan ini juga melatih kemampuan berpikir kritis dan mendorong siswa untuk berani bertanya mengenai fenomena yang mereka amati.

Relawan Literasi Masyarakat Perpusnas RI, Eka Fitriyana Sari, S.Pd.Gr., menjelaskan bahwa eksperimen sederhana seperti ini sangat efektif untuk mengenalkan konsep sains kepada anak-anak. "Sains akan lebih mudah dipahami ketika anak-anak melihat dan mempraktikkannya secara langsung. Melalui percobaan balon udara sederhana ini, mereka dapat memahami bahwa udara memiliki tekanan dan dapat menghasilkan gaya yang mampu menggerakkan benda. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya membaca teori, tetapi juga melihat bukti nyata dari konsep yang dipelajari," jelasnya.

Sorak sorai dan tepuk tangan para santri pun terdengar saat balon berhasil meluncur dengan cepat di sepanjang lintasan. Banyak siswa terlihat penasaran dan ingin mencoba kembali percobaan tersebut. Antusiasme ini menunjukkan bahwa pembelajaran sains yang dikemas secara kreatif mampu meningkatkan rasa ingin tahu sekaligus menumbuhkan kecintaan anak terhadap ilmu pengetahuan.

Eksperimen ketiga yang paling meriah adalah Salju dari Balon Sabun. Pada percobaan ini, balon yang telah diisi larutan sabun dipasangkan pada botol dan kemudian ditekan sehingga menghasilkan semburan busa berwarna putih yang menyerupai salju. Melihat busa yang keluar dalam jumlah banyak, para santri tampak takjub dan bersorak gembira. Melalui eksperimen sederhana ini, siswa diajak memahami bahwa udara yang berada di dalam balon dapat menghasilkan tekanan yang mendorong cairan sabun keluar membentuk gelembung-gelembung busa. Percobaan ini mengenalkan konsep tekanan udara, pembentukan gelembung, dan perubahan bentuk zat dengan cara yang mudah dipahami anak-anak.

Tidak sedikit santri yang maju untuk mencoba langsung percobaan tersebut. Mereka tampak antusias mengamati bagaimana udara dari balon mampu mengubah cairan sabun menjadi busa yang menyerupai hamparan salju. Melalui pengalaman belajar yang menyenangkan ini, para siswa tidak hanya memperoleh hiburan, tetapi juga memahami bahwa sains dapat dipelajari dari benda-benda sederhana yang ada di sekitar mereka.

Dengan demikian, urutan eksperimen dalam berita menjadi:

  1. Meletuskan balon menggunakan kulit jeruk (konsep reaksi kimia dan minyak atsiri limonene).
  2. Balon Melayang dengan Cup Kopi Selection Balon Udara (konsep tekanan udara dan gaya dorong).
  3. Semburan salju dari balon (konsep reaksi kimia sederhana, perubahan zat, dan tekanan gas).

Aktivitas ini terbukti efektif memancing rasa ingin tahu para santri. Kegiatan ini turut mendapat perhatian berbagai pihak. Hadir dalam kegiatan tersebut tim peliputan dari Radar Kudus yang melakukan dokumentasi dan peliputan berbagai rangkaian acara. Selain itu, kegiatan juga dihadiri oleh Relawan Literasi Masyarakat Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Eka Fitriyana Sari, S.Pd.Gr, yang turut memberikan dukungan terhadap penguatan budaya literasi di lingkungan madrasah. Menurut Eka Fitriyana Sari, literasi saat ini tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengolah data, berpikir kritis, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Anak-anak perlu dikenalkan bahwa literasi tidak hanya berasal dari buku. Mereka juga harus mampu mengamati, bertanya, mencoba, dan menemukan pengetahuan melalui pengalaman langsung. Karena itu, literasi sains menjadi salah satu sarana penting untuk menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemampuan berpikir ilmiah sejak dini," jelasnya.

Sebagai penutup rangkaian acara, para siswa langsung "menyerbu" armada Perpustakaan Keliling yang sudah siaga di lokasi. Berbagai koleksi buku, mulai dari komik edukasi, ensiklopedia pengetahuan umum, hingga buku sejarah langsung berpindah ke tangan para siswa yang asyik membaca bersama di sudut-sudut Joglo Gusjigang.

Tidak sedikit siswa yang langsung memilih buku favorit mereka dan membaca bersama teman-temannya di berbagai sudut Joglo Gusjigang. Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa minat baca dapat tumbuh ketika anak diberikan akses bacaan yang menarik serta pengalaman belajar yang menyenangkan.

Melalui kegiatan Literasi Madrasah ini, MI Qudsiyyah berharap mampu melahirkan generasi yang gemar membaca, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mampu berpikir kritis, serta berakhlakul karimah. Kolaborasi antara madrasah, komunitas literasi, Duta GenRe Kabupaten Kudus, Relawan Literasi Masyarakat Perpusnas RI, Perpustakaan Keliling, dan berbagai pihak lainnya menjadi bukti bahwa gerakan literasi merupakan tanggung jawab bersama dalam menyiapkan generasi masa depan yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.

.

Penulis: Nanang Nur Fadli, S.Pd.

Dokumentasi : Faruqi Ahmad, S.Pd.

 

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar

Amin Ikwani, S.Pd

- Kepala Sekolah -

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى...

Berlangganan
Banner